Priakelahiran Bantaeng 1975 ini, ternyata pernah bersekolah di Makassar. Saat itu, kata dia, sekolahnya setingkat SD di Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya (PSBDW) yang terletak di Jalan Pettarani Makassar. Syamsul mengatakan, dari sekolah itu pula dia mendapatkan kursi roda hasil modifikasi tersebut.
Oleh Syaifuddin Gani SEBUAH kerja mengumpulkan, membaca, dan menyeleksi puisi para penyair generasi terbaru dekade pertama Abad ke-21 dari sebuah pulau yang kaya akan khazanah kebudayaannya, sungguh membahagiakan sekaligus menegangkan. Membahagiakan, karena kurang lebih seratus puisi yang dikirim, memperlihatkan capaian estetik, kekayaan tematik, pergulatan bahasa, kompleksitas lokalitas, dan sekaligus sebuah siratan bahwa pulau ini, tiada kunjung kehilangan regenerasi penyairnya. Kebahagiaan lainnya adalah ketika dihadapkan pada sebuah lanskap perpuisian yang sudah menyebar dan hampir merata ke setiap provinsi. Menegangkan, tiada lain, karena selain memilih dua belas penyair dari derasnya arus pertumbuhan kepenyairan di sini, juga memilih puisi-puisi terbaik yang mewakili setiap penyair. Ya, Sulawesi, sebuah pulau yang tiada henti berdenyut, melahirkan penyair. Hal ini dapat terjadi, tiada lain, karena selain kaya akan khazanah kelisanan, juga cemerlang dalam tradisi keberaksaraan. Suku Bugis, misalnya, mencapai puncak keberaksaraan dan kebudayaan, tidak diciptakan di masa kini semata, tetapi dibangun beberapa alaf silam, di masa nenek moyang, ketika naskah sureq I Lagaligo, mulai ditulis, beralih ke ranah aksara, yang kini dibaca di berbagai belahan dunia. Generasi Bugis-Makassar kini, “tinggal” memetik dan mengolah kembali buah kreativitas yang pohonnya ditanam oleh leluhurnya di masa silam. Tradisi penulisan serupa terjadi di khazanah kebudayaan Buton, Sulawesi Tenggara. Salah satu karya sastra yang cukup terkenal dari Buton adalah kabhanti, sebuah syair panjang, yang ditulis, salah satunya, oleh La Ode Idrus Kaimuddin, salah seorang sultan di Kesultanan Wolio, Buton. Kabhanti yang ditulis oleh Sultan ke-27 ini, berisi petuah keagamaan, akhlak, syariat, dan kearifan sebagai bagian dari siar Islam bagi masyarakat Wolio yang baru saja memeluk ajaran Sang Nabi, saat itu. Karena memiliki nilai yang dipadu dari lokalitas Buton dan profetik Islam, kabhanti pun menawarkan universalitas sehingga dibaca dan dikaji oleh penghayat ilmu pengetahuan dari beragam latar belakang. Puisi-puisi Sulawesi yang berada di haribaan pembaca saat ini, hadir dengan kekayaan dan kompleksitas adat-istiadat, sudut pandang, pergulatan sosiologis masyarakat Sulawesi, hadangan modernisme dan peliknya persoalan kekinian. Sartian Nuryamin, seorang penyair Sulawesi Tenggara yang bermukim di Kabupaten Kolaka, menyuguhkan puisi yang mewakili persoalan, kekayaan, dan kompleksitas sosial-budaya suku Tolaki. Puisi “Sabda Kalo” berhasil menjelaskan sebuah simbol adat berupa lingkaran rotan yang di tengahnya terdapat sirih dan pinang, sebagai tanda persatuan dan kerukunan suku Tolaki. Sartian, menguraikan secara maknawi adat itu yang berpijak pada bahasa puisi yang khas dan bernas, seraya mempersembahkannya secara filosofis ke haribaan pembaca. Penyair sadar bahwa ue atau rotan yang “pada mulanya tanah” adalah awal-mula manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi dalam laku “meninggikan adat dan membumikan petuah”. Puisi tersebut menjadi suatu pembuka pemahaman bagi dunia di luar budaya Tolaki bahwa setiap adanya perselisihan, pernikahan, perceraian, kematian, perang, dan musabab lainnya selalu “diakhiri” dengan rasa persaudaraan dan pertaubatan melalui kalosara dalam bahasa teeno sara mami, inilah persembahan adat kami’. Puisi ini juga sekaligus mengetengahkan sisi spritualitas dalam balutan lokalitas Tolaki bahwa “Tuhan, penguasa, rakyat” adalah satu jua adanya. Ketiganya “bertemu di ujung simpul” yakni simpul sang khaliq dan simpul sang hamba. Sampailah penyair pada pesan yang menggetarkan yaitu “tandan bergelar kafan pengingat waktu”. Belitan lingkaran rotan, sirih dan pinang, hanyalah ikhtiar manusiawi belaka yang pada akhirnya diperhadapkan pada ujung kehidupan, yakni kematian! Mitos menjadi lahan penciptaan yang menggoda penyair. Tradisi kalosara yang dibalut dengan nilai mitologis pada puisi Sartian di atas, La Ode Gusman Nasiru juga menjadikan mitos, khususnya cerita Putri Duyung, sebagai tema dan pesan. La Mbatambata adalah anak Putri Duyung atau Wandiundiu yang selalu menyusu di pinggir pantai, dalam kelisanan Buton, usai sang ibu diusir suami dan terkutuk jadi setengah ikan setengah manusia. Dalam sudut pandang penyair, La Mbatambata terus saja menjadi “kisah perih kekal dalam sunyi” dan “menari dalam resonansi waktu”. Akan tetapi, La Mbatambata bukanlah melulu soal mitos masa silam dari ranah Buton itu, tetapi di tangan penyair sekaligus menjadi Buton itu sendiri yang tengah bergelut dan berperang untuk keluar dari belitan mitos-mitos kebesaran masa silamnya yang melenakan untuk segera “bangkit dari kisah-kisah dan peristiwa” karena memang “terkutuklah segala masa lalu” itu. Secara tersirat, penyair ingin mengatakan bahwa tugas di kekinian lebih berat yaitu bekerja untuk kemaslahatan, keluar dari mitos. Akan tetapi, sang penyair sendiri tengah bergelut mencapai hal itu, selain mencipta puisi, juga harus berjuang agar La Mbatambata selain sebagai penanda lokal, juga menjadi tokoh universal. Gusman menyajikan puisinya dengan daya ungkap yang khas, segar, dan menggugah. Pulang ke haribaan kampung halaman yang dipenuhi sejarah dan kenangan, ditampilkan oleh puisi “Karena Aku Tak Pulang” karya Wa Ode Rizki Adiputri, penyair Kendari, lewat “kabar untuk laut yang menghitam” yang “sari-sari aspal lekat merambati lekuk gelombangnya”. Si aku lirik menegaskan kesetiaan sang gelombang melalui pertanyaan “pernahkah kau perhatikan betapa setia ia menjemputmu?” Keterpesonaan si aku lirik pada kampung halaman—yang sebagian besar adalah masa silam itu—karena ia dapat menjadi tumpahan rindu sebagai si anak hilang yang datang jauh di negeri orang. Melalui larik “siang ini, akumulasi cerita rindu tamat di Murhum, mengintipmu mengucap syukur penuh kaca, ah, lepaskanlah bersama kecewamu di situ”. Murhum, selain adalah nama salah seorang Sultan di Buton, juga sebagai simbol masa silam yang dibanggakan dan tak tergantikan. Romantisisme begitu kuat sehingga hampir tidak ada jalan kembali yang lain, selain ke masa silam itu. Hal tersebut rupanya disadari dengan baik oleh penyairnya. Ia mengeritik lewat bahasa simbolik yang cerdas, “jika kau sempat menyendiri, perhatikan bagaimana gemunung mencuatkan hijau, bagaimana sejarah menjelma cadas”. Sejarah, jika tidak dibaca ulang dengan berbagai sudut pandang, ia hanya menjadi pengganggu, cadas! Sehingga, “Wolio-Sorawolio atau Bungi-Betoambari” hanya mampu “kekal dalam jarak”. Wa Ode tengah berupaya “menjinakkan” bahasa sehingga pada sajaknya yang lain, ia mewakilkan rasa cinta si aku lirik melalui larik segar “garis tepi itu kukenal dari kedalaman obor matamu”. Wa Ode sadar bahwa pergulatan seorang penyair adalah perjuangan menemukan dan mencipta bahasa. Mariati Atkah, penyair asal Sulawesi Selatan, memotret ironi dan kenyataan pahit hidup nelayan. Dengan bahasa dan stilistika yang khas, ia menggambarkan “lelaki tua berjalan di atas laut mimpinya yang bertebing karang”. Laut dan karang sebagai latar fisik, dipadu dengan suasana batin sang nelayan dan masyarakat sekitar yang didayagunakan menjadi kekayaan bahasa puisi yang bernas dan kuat. Pola kehidupan masyarakat di Palajau, Kabupaten Barru dan segala kompleksitasnya merupakan sumber penciptaan. Dengan metafora yang dibangun dari pemilihan bahasa yang ketat, penyair mampu memotret ironi kehidupan nelayan yang “menetas dari ombak di telapak kakinya yang lisut”. Penyair mengatakan bahwa melimpahnya pendapatan yang diwakili “garam melimpah ruah” tidak mampu mengangkat kesejahteraan masyakarat, karena di sisi lain, harga barang pokok tetap tak terjangkau. Dalam keadaan ini, harapan pun “rubuh membiru” dan nasib alangkah asin, seasin garam. Suasana batin si aku lirik dan kemarau panjang yang melanda Butta kampung Turatea berpilin menjadi puisi menyentuh. Dengan pemanfaatan persamaan bunyi konsonan “r” di baris kedua dan ketiga pada bait pertama puisi “Ballo’ Tala”, pembaca dihadapkan pada ambiguitas dan multitafsir makna, antara kemarau hati si aku lirik dan musim panas “serupa api yang sanggup menghanguskan hati”. Dan dengan sentuhan ironi, penyair mampu meminjam aroma ballo’ talla, minuman khas dari buah lontar, yang ditawarkan si aku lirik pada kekasihnya. Namun, alih-alih menikmati rasa manis dan menghilangkan rasa haus “duniawi”, justru dengan getir “memaniskan luka-luka”. Sebuah metafora yang memikat. Jika beberapa puisi sebelumnya memanfaatkan tradisi dan kehidupan masyarakat lokal sebagai sumber penciptaan, Fitriawan Umar, secara intertekstual, meminjam puitika Al-Quran, Surah Al-Qariah, sebagai hipogram puisinya “Surah Kenangan”. Dengan cerdas, penyair muda kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan ini, “mengubah” larik-larik Surah “Hari Kiamat” menjadi larik-larik baru dan tentunya menawarkan makna baru lagi. Tentunya, ini bukan sekadar peminjaman cara pengungkapan, tetapi sebagai strategi literer, sebagai bagian dari alternatif/cara pengucapan. Disebutkan bahwa kenangan adalah “hari di mana semua luka-tawamu seperti laron yang beterbangan”. Bukan gunung lagi, tetapi “senyum-perihmu seperti bulu yang dihambur-hamburkan”. Bagi Fitriawan, kenangan dalam konteks puisinya, tidak lain adalah kiamat itu sendiri bagi “orang yang masa lalunya berfoya-tawa”. Karena tempat kembalinya adalah sunyi, yaitu “api kenangan yang penuh pedih”. Sunyi adalah metafora bagi neraka, tempat penyiksaan dalam bentuk kenangan yang “mengapi”. Apa yang ingin dikatakan oleh Fitriawan adalah perilaku duniawi yang hedonis, yang dipenuhi senyum-perih, luka-tawa, dan foya-tawa akan mendapat ganjaran setimpal, berupa sunyi yang berapi. Bukankah neraka adalah negeri “tersunyi” yang dipelihara lidah-lidah api? Fitriawan juga menulis puisi tentang percakapan orang-orangan di sawah. Puisi seperti ini lahir dari sebuah masyarakat agraris dan memiliki pekerjaan, salah satunya, sebagai pengolah sawah. Dan suku Bugis menjadi salah satu etnis yang dikenal sebagai pengolah sawah yang ulet. Penyair menyuguhkan percakapan liris antarorang-orangan itu, yang sebetulnya mewakili kegelisahan petani. “Apa kau masih diliputi ketabahan, sedang waktu melipat segala” adalah ungkapan yang bernada pesimis dari orang-orangan itu. Puisi ini memiliki kaitan tematik dengan puisi “Ballo’ Tala” karya Mariati Atkah yang melihat adanya pergantian musim, “malaikat petugas pergantian warna melunturkan yang hijau, mengukuhkan yang kuning”. Gilasan sang waktu semakin terasa mendera seiring pilihan pragmatis petani yang lain yang tidak setia kepada bumi, dan “sibuk berunding dengan pemilik proyek”. Selain karena iming-iming uang, himpitan kehidupan membuat petani yang lain lagi mengatakan “kita tak punya pilihan lain”. Di sini, sang penyair menangkap gejala roda dan mesin modernisme yang menggasak kehidupan agraris masyarakat. Sawah berganti “petak-petak rumah di sana”. M. Dirgantara, penyair muda asal Pinrang, Sulawesi Selatan, pada puisinya “Kuda-kuda” terasa kerumitan pintu masuk pemaknaannya. Ada kisah yang serupa cerita sufi dan menawarkan hikmah khas pencari jalan cinta dan kebenaran. Ada nada humor lewat larik “Baiklah. Kita berangkat sore hari. Jagal saja kudaku sebagai bekal’, kamu tertawa”. Dirgantara tengah bergulat antara meraih makna yang filosofis dan tawaran bahasa sebagai medium penyampainya. Kisah sufi terasa kuat ketika sang tokoh di dalam puisinya, “mengambil kembali kudamu dari akhirat dan meminta maaf pada Tuhan karena berubah pikiran”. Kejenakaan seperti ini, lazim ditemui pada cerita sufi, dan Dirgantara mengolahnya kembali menjadi puisi yang menantang pemaknaannya. Kekuatan gaib dan strategi pemerian makna bahasa juga dihadirkan Dirgantara pada kisahnya ini melalui “Orang berkerudung tanah kering itu, baru saja hilang di terima kasih”. Sementara itu, puisi “Pada Karat Besi” Dirgantara menulis tentang hubungan antara aku lirik dan guru yang akan ditinggalkan. Ia mengenang “tentang cangkir saat kami menjadi teh hijau, dan gunting saat kami rambut yang kepanjangan, atau musim gugur ketika kami musim panas yang kurang sabar mendingin”. Bagi si aku lirik, ia adalah pihak yang siap menerima pelajaran dari guru, karena ibarat buku, ia adalah “buku yang berabu”. Penyair muda Gorontalo, Jamil Massa, berangkat dari ladang tebu yang siap dipanen yang dimetaforiskan menjadi “tebu yang tumbuh di keningmu itu”. Rasa sayang si aku lirik pada sang Gadis adalah juga rasa cinta kepada ladang tebu, sekaligus rasa kesal terhadap industrialisasi yang menjadi ancaman keberlangsungan sang ladang. Seperti gadis yang harus dicintai, ladang tebu juga membutuhkan kasih sayang, tetapi “bilah-bilah tajam bergerigi, di moncong perontok mekanis” adalah ancaman bagi kemanusiaan, juga bagi kehidupan ladang. Sajak ini ditulis dengan nada romantis tetapi dibalut dengan kritik sosial yang lembut sekaligus tajam. Harmoni, cinta, penghidupan masyarakat, dan ancaman pembangunan dibingkai dengan baik dalam puisi Jamil “Ladang Tebu” tersebut. Puisi Jamil Massa yang lain kembali menyuguhkan fenomena kemarau pada puisi “Ayat-ayat Kemarau”. Sebuah puisi imajis yang mampu menggambar panasnya sang musim yang retakannya “merayapi tanah kering”. Terasa ke haribaan pembaca, panasnya cuaca yang “berujung pada tangkai randu di gayutan ranting”. Akibat musim seperti ini, “batang digoyang buahnya ikut terpanting”. Jamil menjalin larik-larik puisinya dengan kesadaran akan bunyi rangkap konsonan “ng” sehingga empati dan kritiknya tetap di dalam koridor bahasa yang estetis. Ada semacam rasa keputusasaan yang mendera si aku lirik melihat tidak bersahabatnya alam. Akan tetapi, Jamil secara tersirat mengatakan bahwa di balik “air selokan berwarna cokelat” dan “dingin berliur mengerkah senja yang berangsur” terdapat tangan jahat manusia. Di sini, penyair bergulat antara daya ungkap dan pesan yang disuling dalam bahasa yang peka pada bunyi yang liris. Ada benang merah yang dapat ditarik dari puisi-puisi yang ditulis di Makassar, yaitu ancaman kemarau, pembangunan yang tidak berpihak, dan pola kehidupan masyarakat lokal yang kian tergerus. Di sini, nilai kearifan lokal dan rayuan pragmatisme tengah bergelut dengan arus modernisme yang kuat menggelinding. dalah Abdul Muttalib, penyair muda Mandar, Sulawesi Barat, yang mengetengahkan pergulatan dan perjalanan hidup seorang sopir truk antarkota. Baginya “supir truk adalah musafir” sebuah sudut pandang yang tak biasa. Muttalib memotret hidup sang sopir yang kompleks, penuh godaan, dan cobaan. Godaan dan cobaan itu tidak hanya mucul di tengah perjalanannya, tetapi juga dengan “malam” yang penuh cumbu rayu. Dengan demikian, sopir, bukanlah semata pekerjaan untuk mendapatkan uang belaka, tetapi juga bagaimana menahan diri dari godaan dunia dan terutama merawat kesetiaan pada “lapang hati istri dan kenangan riang anak” di rumah. Dari segi sosiologis, sopir adalah pekerjaan yang banyak dilakoni oleh sebagian lelaki Mandar sebagai kota yang merupakan pusat dari-dan-ke Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Muttalib mampu menghidupkan ingatan kolektif masyarakat Mandar atas pekerjaan sebagai sopir yang melewati kota demi kota, terminal demi terminal, dan pelabuhan demi pelabuhan. Puisi ini berhasil mengkonkretkan sebuah truk yang melalu dengan alunan lagu “kutunggu jandamu” menghidupkan jalan-jalan pengembaraan. Frase “kutunggu jandamu” mewakili laku “jalang” para sopir, gairah perantauan, lambang kelelakian, sekaligus penawar untuk tetap setia dengan pasangan sesungguhnya di rumah. Frase umum ini adalah penanda harapan sang sopir bahwa meskipun ia singgah di kota-kota tak bernama, tetapi di rumah, istri adalah segalanya. Muttalib berhasil menggiring judul lagu Imam S. Arifin tersebut dari jurang klise ke pergumulan bahasa yang khas dan otentik. Sehingga dalam pandangan penyair, “kutunggu jandamu” tidak lagi bermakna ketidaksetiaan seorang lelaki atas istrinya karena menanti status janda dari seorang istri lelaki lain, tetapi justru sebaliknya, jika sang lelaki sopir “zikirnya aliri losmen melati tak harum” maka pasangan di rumahnya akan menjadi janda dengan sendirinya, yang ditunggu lelaki lain. Ya, dengan memanfaatkan kosakata-kosakata khas truk dan perjalanan, misalnya “kompasnya patuh akan rambu-rambu hidup, klakson truknya tetap raungkan doa, ingatkan jalan lurus tanpa kelokan”, Muttalib telah memperkaya pengucapan puisi. Di sini, ia menawarkan puisi yang reflektif, humoris, dan spritual sekaligus. Upaya pemadatan bahasa juga masih terasa di sajak lain Muttalib, “Dua Kantung Hitam Menggantung di Bawah Matanya”. Dua kantung hitam itu “menyimpan kisah gelisah malam” adalah sebuah upaya penyimbolan yang unik. Semakin hitam kantung itu, berarti semakin banyak lipatan kisah yang menggantung di dalamnya. Penyair memberi pesan bahwa kisah-kisah itu patut dipelihara sebagai hikmah di masa kini. Abed El Mubarak adalah penyair Mandar yang mencoba menyelusuri jejak kepenyairan sebelumnya. Dua puisinya ditujukan buat Husni Jamaluddin seorang penyair kenamaan Indonesia kelahiran Mandar dan Zawawi Imron, penyair Madura tetapi banyak menulis tentang Mandar dan menaruh perhatian kepada tanah kelahiran Baharuddin Lopa itu. Sebagai penyair, Abed tidak abai terhadap apa yang dicapai pendahulunya. Kepada Husni ia mengatakan “Aku ingin mengenangmu/Seperti seorang isteri nelayan/Yang saban senja menghambur ke pantai/Mencari bayangan lelakiku antara tepi laut dan garis langit/Adakah di buih kau titipkan juga sebuah rindu yang menggebu?” Abed, mengenang sang penyair yang diasosiasikan dengan seorang istri nelayan yang menunggu sang suami “antara tepi laut dan garis langit”. Abed sekaligus memanfaatkan “laut” sebagai metafora pencarian dan kesabaran, karena laut sendiri adalah dunia yang karib dan tak terpisahkan dengan Tanah Mandar. Laut adalah simbol kehidupan, kesabaran menanti suami, dan sebagai sumber penciptaan puisi itu sendiri. Penyair Ima Lawaru, seorang perempuan berdarah Wakatobi, dengan baik memotret sebuah ritual budaya di Tomia, karia’a. Ia memulai sajaknya dengan “pagiku lautan debu manusia” sebuah larik yang mengandaikan manusia sebagai lautan debu untuk penegasan betapa banyak, sekaligus betapa ritual. Dengan bahasa sederhana tetapi tanpa kehilangan sentuhan puitiknya, penyair mampu menceritakan kembali secara visual sebuah upacara sunatan massal itu. Aroma pagi tercium sampai ke pembaca melalui larik “wangi-wangi mewangi dalam aroma pesta karia’a”. Tidak bisa tidak, sajak ini telah menghidupkan suasana dengan kesegaran kata-kata. Ima Lawaru dengan sajak yang liris, dengan tenang, memungut kata-kata dan menatanya menjadi sajak yang menyentuh. Sajaknya yang lain, “Musim di Rambut Ibu”, adalah sebuah amsal yang kuat dan sekali lagi, menyentuh, mengenai usia seorang ibu. Larik “musim semi/adalah musim yang pertama singgah bercanda mesra di rambut ibu” tentunya digali dari pergulatan bahasa yang intens dan sabar. Pengandaiannya sebagai “tunas-tunas kehidupan mulai tumbuh di kepala ibu yang kurus” bukankah itu sebagai larik yang bertenaga, puitik, dan imajis? Pengucapan yang menarik adalah ketika penyair mengibaratkan Usia sebagai “kemarau mengaum/mengaum lebih panjang dari musim kemarin” dan Maut diumpamakan dengan “ibu memetik musim terakhir, musim terindah yang tak pernah kutahu apa namanya” adalah penciptaan metafor yang hidup dan mengejutkan. Di tangan Ima, dunia kepenyairan di Sulawesi Tenggara, menjanjikan. Puisi adalah pengalaman personal penyairnya. Sebuah pengalaman yang paling dalam dan berkesan dapat diungkap melalui bahasa yang liris. Hanz Al Gebra, penyair asal Manado menjadikan pengalaman intim, berikut segugus harapannya melalui puisi yang lembut. Perhatikan larik ini, “kugambar sketsa wajahmu dengan garis bening” segera saja merangsang imaji visual pembaca pada sebuah kanvas di “bidang berembun”. Menariknya, si aku lirik menggambar di atas kereta, sehingga “setiap detik latar belakangmu berganti, seiring keretaku yang makin melaju”. Di sinilah pertaruhan seorang penyair yang berjuang menawarkan kata-kata. Sang penyair mengatakan bahwa kereta itu “digerakkan mesin rindu”, sebuah ungkapan yang digali dari pencarian bahasa yang ketat. Hanz mengakhiri puisinya dengan sangat konkret dan mengagetkan, “aku meraba mata angin, mengendus kutub-kutub udara yang basah, mereka-reka, di mana engkau akan mewujud”. Dengan demikian, si aku lirik tidak semata menggambar dengan tangan lahir, tetapi juga dengan tangan batin. Sajak Haz yang berjudul “Labirin Senja” juga merupakan upaya penyair di dalam menyegarkan ungkapan cinta melalui metafor senja. Dengan pilihan bahasa “jika bisa kubakar langit, agar malam bisa tertunda” si aku lirik mengemukakan ihwal cintanya dengan kata-kata yang heroik. Penyair Manado, Jean Kalalo, hadir melalui puisi “Tambio” dengan bahasa yang lugas mengalir, berani, liar, dan mengejutkan. Tambio adalah sosok ganda dan hidup di tengah masyarakat Manado, juga Indonesia. Ia, si Tambio, yang “di tepi jalan, matanya meliuk-liuk, o, ya gayanya, Sob”. Jean fasih menjadikan tutur khas Manado menjadi bahasa puisinya, sehingga terasa benar ruh lokalitasnya. Tambio adalah juga yang “di tepi jalan, gesit mencari ayah dan air mata yang dikandungnya”. Tambio adalah anak kandung sejarah dan deru perkotaan. Tetapi Tambio adalah juga yang “di atas mimbar, merengkuh sepi dengan kata, lidahnya melambai nakal”. Di tangan kreatif Jean, pembaca disuguhi beragam tabiat dan nasib Tambio, yang adalah juga nasib kita semua. Jean memberi warna khas bahasanya seperti “sengatan bisa 24 karat” untuk simbol rayuan yang dilakukan Tambio di mimbar politik. Tambio adalah sebuah puisi kritik sosial yang mampu menjaga jarak dengan puisi kritik sosial sebelumnya yang dilahirkan penyair Indonesia. Melalui gaya bahasa tuturan Manado, Jean sangat berpeluang menawarkan gaya pengucapan yang segar bagi puisi kita. Ia mengingatkan pembaca bahwa “Tambio di dalam kantor, tusuk kerut menembus dada, dan selusin liang mayat, menjalar dari pantatnya”. Sebuah bahasa yang satir dan sarkas, tetapi tetap memikat. Jean juga memiliki bakat menyajak dengan cara mbeling, tetapi tidak terjebak pada main-main belaka. Puisi berikut lahir dengan nada kelakar tetapi serius, “ketika nabi-nabi terpasung, berbahagialah jiwa-jiwa yang memuliakan Tuhan dengan keringat lelah, karena lidah adalah senjata, bukan pangkal kemuliaan”. Gaya ironi dimanfaatkan Jean pada puisi tersebut. Begitu pula puisi lain yang tidak kalah nada humornya, “aku cinta damai tapi mereka tidak, aku rindu damai, namun mereka enggan, aku haus damai sedang mereka benci, lambat-lambat aku bahkan lupa damai pernah ada”. Puisi yang lugas, sederhana, tetapi kaya akan makna. Membaca puisi dari para penyair Sulawesi yang khusus ditampilkan untuk Jurnal Sastra edisi ini adalah menghikmati bentangan cakrawala bahasa yang memukau. Para penyair dengan cara yang meyakinkan, memotret kehidupan sosial masyarakat Sulawesi, lengkap dengan kompleksitas permasalahannya, baik ketika berhadapan dengan musim pancaroba, terlebih lagi ketika dihadapkan pada pembangunanisme yang mengabaikan nilai lokal. Mitos mendapat pembacaan ulang, seraya memberi makna baru, meskipun terasa upaya bergelut dengan pukauan mitos, tradisi, dan masa silam. Lanskap Sulawesi yang berlaut, berkarang, agraris, yang ditopang oleh khazanah budaya yang bergelimang, menjadi oase penciptaan bagi penyair. Para penyair berjuang untuk menawarkan bahasa yang dipetik dari lokalitas dan nilai masyarakat pendukungnya. Dengan demikian, selain sebagai latar fisik, para penyair masa depan Sulawesi ini dapat mengungkap sisi batin dan spritualitas masyarakat Sulawesi dengan sudut pandang dan pencapaian masing-masing. Kiranya, masa depan puisi di Sulawesi senantiasa cerah, dengan kehadiran para penyair generasi terbaru ini, sebagai pelanjut estafetnya. Menghimpun dua belas penyair dari daerah provinsi yang memiliki dunia kekusastraan yang bergairah dan kompleks, dapat terealisasi berkat dukungan dari kawan-kawan penyair yang bermukim di wilayah tersebut. Oleh karena itu, terima kasih jua saya haturkan kepada sahabat/penyair M. Syariat Tajuddin, M. Aan Mansyur, Delasari Pera, dan Arther Panther Oli. Selain itu, selamat pula kepada dua belas penyair Sulawesi yang puisi-puisinya hadir di sini. Lapangan kesusastraan Sulawesi dan tanah air, menanti Anda. Wassalam. Kendari, 30 September 2013 Catatan Esai Syaifuddin Gani, “Sulawesi, Lokalitas, dan Puisi” adalah tulisan pengantar edisi “Sulawesi dan Roh Ideologi Puisi Nusantara Mutakhir” dalam Jurnal Sastra The Indonesian Literary Quarterly lalu kemudian dimuat di Sastra Digital edisi April ini juga dimuat di tanggal 1 Juli 2015

Puisitersebut bagian dari buku puisi berjudul "Karang Menghimpun Bayi Kerapu" yang berisi 100 puisi karya Ibrahim Gibra - nama pena dari Prof Gufran Ali Ibrahim. Puisi itu sejatinya, cara memahami pengarang tentang keindahan alam Maluku Utara di masa lalu, saat ini dan apa yang diimajinasikan nanti.

Apakah anda sedang mencari informasi Puisi Dalam Bahasa Makassar Beserta Artinya. Mengenal Sajak Makassar Dalam Kelong Nama Nama Hewan Dalam Bahasa Makassar Brainlycoid Ini Puisi Rahman Arge Tentang Lelaki Bugis Makassar Tribun Timur 15 Puisi Tentang Keindahan Alam Sebagai Penyegar Pikiran Kepogaul Puisi Bahasa Makassar Tau Toaku Rwblog Representasi Kebudayaan Bugis Makassar Dalam Lirik Lagu Album 12 Ungkapan Aku Cinta Kamu Dalam Bahasa Daerah Coba Bahasa Bugis Hasil Penelitian Bahasa Dan Sastra Pappasang Instagram Posts Photos And Videos Instazucom Daeng Pamatte Pencipta Aksara Lontara Oleh Adi Lagaruda Makalah Bahasa Bugis Appala Tarima Kasih Pembacaan Puisi Bahasa Makassar Youtube puisi dalam bahasa makassar beserta artinya Pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan ungkapan perasaan seorang penyair dengan menggunakan bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritma dalam penyusunan larik dan baitnya. Beberapa ahli modern mendefinisikan puisi sebagai perwujudan imajinasi, curahan hati, dari seorang penyair yang mengajak orang lain ke dunianya’. Meskipun bentuknya singkat dan padat, umumnya orang lain kesulitan untuk menjelaskan makna puisi yang disampaikan dari setiap baitnya. Itulah informasi tentang puisi dalam bahasa makassar beserta artinya yang dapat admin kumpulkan. Admin blog KT Puisi 2019 juga mengumpulkan gambar-gambar lainnya terkait puisi dalam bahasa makassar beserta artinya dibawah ini. Jeka Joka Doangang Puisi Sakral Dari Makassar Kata Kata Cinta Bahasa Karo Dan Artinya Akunttcom Mengenal Aksara Lontara Orang Bugis Cekidot Di Mari Kaskus Kata Kata Cinta Berbahasa Bugis Terbaru Romantis Ceramah Pidato 12 Ungkapan Aku Cinta Kamu Dalam Bahasa Daerah Coba Bahasa Bugis Menggali Makna Di Balik Lirik Lagu Yabe Lale Inirumahpintarcom Pu Ipuisi Makassar Makalah Bahasa Bugis 12 Ungkapan Aku Cinta Kamu Dalam Bahasa Daerah Coba Bahasa Bugis Puisi Makassar Itulah yang admin bisa dapat mengenai puisi dalam bahasa makassar beserta artinya. Terima kasih telah berkunjung ke blog KT Puisi 2019.
Makawajar, jika kemudian ada banyak orang yang membuat dan menciptakan bait atau syair-syair puisi tentang pernikahan. Satu hal yang pasti, bahwa teks puisi pernikahan selalu identik dengan keindahan cinta, rindu dan rasa kasih dan sayang. Karenanya, puisi pernikahan termasuk dalam kategori puisi cinta.
Ilustrasi puisi tentang keindahan alam. Sumber tentang keindahan alam adalah karya sastra yang berisi keelokan alam yang ada di sekitar kita. Membuat puisi sering dianggap sebagai kegiatan yang sulit, namun sebenarnya tidak seratus persen pengamatan, intuisi, dan kemampuan merangkai kata untuk bisa membuat puisi yang indah. Bagi kamu yang saat ini membutuhkan inspirasi, simak contoh puisi bertema keindahan alam di artikel tentang Keindahan AlamIlustrasi puisi tentang keindahan alam, sumber foto Pixpoetry by buku Sukses Menulis Puisi oleh Silfy Zahrotun Nisa, dkk 2022, puisi merupakan karya sastra yang menggunakan kalimat padat, singkat, dan memiliki rima untuk menimbulkan nilai estetika pada rangkaian kata. Berikut adalah beberapa contoh puisi tentang keindahan alam yang bisa dijadikan Judul AlamkuBetapa indah ciptaan TuhanMembentangkan alam yang luas di hamparan bumiPegunungan yang menjulang, hutan yang rimbunSemua bersimfoni ikut membangun peradabanHewan-hewan menjadi saksi betapa besarnya karunia alamMemberikan hasil bumi yang melimpah ruahKeindahan alam harus dijagaAgar dapat dinikmati oleh anak cucu kita2. Judul Jerih Payah PetaniLangit yang biru dibalut sinar mentari pagiUdara dan embun masih berbaur riang di udaraAku mengambil sepeda dari garasiMemutuskan untuk menikmati panorama alam iniSawah-sawah yang terhampar luasMenjadi saksi jerih payah petaniSaat musim panen, para petani bersukacitaNamun terkadang juga sedikit ada sendunyaItulah jenapa kita dilarang membuang-buang makananKarena di situ jerih payah petani begitu besarMenghargai makanan sama halnya menghargai petani3. Judul Kemilau PantaiLangit sedang cerah-cerahnyaSerupa laut yang biru menawanPara nelayan pergi mencari ikan di tengah ombak yang bergulung-gulungKepiting-kepiting berlarian di tepi pantaiBersembunyi di balik pasir-pasir bisuKucoba kejar, tapi tak pernah sampaiSeperti halnya mimpi yang tidak mudah tergapaiTapi kita dilarang untuk terlalu cepat menyerahSemesta akan menuntun kita meraih mimpi yang nyata4. Judul Selalu Ada AlasanTak kutahu pasti, kenapa gunung begitu tinggiDan langit pun begitu teduhNamun, kupahami bahwa alam tercipta bukan tanpa alasanSetiap hal–sekecil apapun pasti punya maknaTuhan membangun cakrawala bukan sekadar untuk dipandang semataSeperti halnya dirimu yang diciptakan di duniaAlam sangat indah, begitu juga dengan kauMaha sempurna Tuhan yang telah menciptakan semesta beserta puisi tentang keindahan alam yang disebutkan di atas sangat menarik untuk dibaca dan ditelaah isinya. Dengan membuat puisi bertema alam, diharapkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar bisa semakin bertambah. DLA KumpulanPuisi Indonesia Terbaik #1. Indahnya Alam Negeri Ini #2. Kasihan Bangsa Puisi Indonesia Menangis #1. Negaraku #2. Bumi Kita Hukum Rimba Itu Hukum Negeriku Penutup Puisi Indonesia - Berbicara tentang Indonesia, tidak hanya menceritakan tentang keindahannya, kekayaan sumber daya alamnya, kesuburan tanahnya, keramahan penduduknya. Inilah contoh puisi makassar tentang keindahan dan ulasan lain mengenai hal-hal yang masih ada kaitannya dengan contoh puisi makassar tentang keindahan yang Anda ini tersedia beberapa artikel yang menjelaskan secara lengkap tentang contoh puisi makassar tentang keindahan. Klik pada judul artikel untuk memulai membaca. Semoga bermanfaat.…sendiri nggak pernah bicara dan tertutup. Untuk mengungkapkan semua perasaan hatinya, Elena hanya bisa mengekspresikan melalui puisi-puisi yang sering ditulisnya. Puisi-puisi itu sering ditempelkannya di mading sekolah tanpa disebutkan siapa… …akan keindahan alam yang tentunya sangat menakjubkan. Keindahan laut, pegunungan, alam dan budaya yang sangat beraneka ragam. Banyak tempat wisata yang indah di Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri… …dengan keindahan, berakhir dengan keindahan pula dan meninggalkan sebuah pengharapan akan sebuah pertemuan yang kita semua harapkan. Berikut di bawah ini beberapa kata kata mutiara perpisahan yang dapat Anda baca… …puisi yang diberikan oleh jika Anda memiliki puisi tidak ada salahnya Anda mengirimnya pada kami di email [email protected] dan kami akan memuat isi hati hati Anda dalam ungkapan puisi…. …musibah atau bencana yang sedang menimpa. Puisi sendiri biasanya merupakan ungkapan perasaan yang biasanya terjadi pada seseorang, sehingga terkadang terdapat puisi-puisi yang sangat menyentuh hati bila mendengarnya. Berikut ini adalah… …Atas nama cinta… Dari caraku menyampaikan… Sebuah puisi cinta untukmu.. Mungkin tidaklah indah… Selayaknya penyair hebat… Dengan kalimat menyentuh hati… Kuluangkan waktu untuk menulisnya… Tetapi ku pastikan… Dengan keindahan hati…… – Tidak tersadar jika besok malam merupakan malam yang ditunggu oleh mereka yang memiliki pasangann cinta. Sebetulnya puisi valentine 2015 ini datangnya terlambat maklumlah admin tidak memiliki kekasih yang… Pantailosari merupakan tempat hangout yang paling sering dikunjungi oleh warga makassar hanya untuk menikmati keindahan kota makassar. di ujung anjungan yang sering dijadikan sebagai latar untuk mend0kumentasikan jika seseorang pernah berkunjung ke Makassar. nah di bawah ini puisi tentang anjungan losari di tulis oleh Kemilau mata bening Kumpulan puisi tentang keindahan alam yang paling indah. Puisi alam yang diterbitkan pada kesempatan ini adalah puisi yang menceritakan tentang keindahan alam dan contoh puisi pemandangan arti keindahan adalah sesuatu yang baik enak dipandang, cantik, bagus elok dan alam adalah segala materi yang ada di Dunia, jadi pengertian keindahan alam dapat diartikan materi yang ada didunia yang terlihat bagus elok, enak dipandang dan menyenangkan untuk dilihat, hal hal inilah yang dikisahkan dalam kumpulan puisi tentang keindahan alam dan contoh puisi pemandangan alam yang diterbitkan puisi dan kata bijak kali umumnya keindahan alam yang dikenal adalah pemandangan alam seperti alam pengunungan, alam hutan, panorama alam desa, dan berbagai macam hal indah yang langsung diserap oleh pandangan sesugguhnya keindahan alam itu mencakup segala hal yang berupa bentuk warna alam yang tersusun dari berbagai keselarasan yang enak dipandang dan menyenangkan, contoh puisi pemandangan alam menjelaskan akan hal juga tergantung dari sudut pandang seseorang memaknai dan menilai hal yang dilihat, karena tiap-tiap orang berbeda presepsi, namun pada intinya keindahan adalah hal yang menyenangkan dan membuat suasana hati merasa pun dengan alam jika membuat suasana hati senang dan memukau mata melihat maka itulah keindahan alam, seperti yang di ceritakan puisi- puisi alam atau puisi tentang alam yang dipublikasikan blog puisi dan kata bijak kali berikut ini adalah daftar judul puisi dengan tema kumpulan puisi tentang keindahan alam diterbitkan blog puisi dan kata bijak diantaranyaPuisi keindahan dan penyesalanPuisi keindahan alam pagiPuisi keindahan alamPuisi pesona alamPuisi alam semestaPuisi alam yang indahPuisi bias senyum mentariPuisi syukurPuisi keindahan alam IIPuisi telaga beningSepuluh judul dalam kumpulan puisi tentang keindahan alam atau puisi alam, dapat dijadikan contoh puisi pemandangan alam bagi pembaca yang ini menulis puisi alam dan puisi tentang pemandangan alam yang Puisi Tentang Keindahan Alam yang Paling IndahTentu kita semua tahu bahwa puisi alam adalah puisi tentang alam yang terinpirasi dari kata kata alam yang biasa menginspirasi ketika dilihat dan dirasakan, yang di rangkai dengan kata puisi pemandangan alam dan berbagai kata kata puisi sehingga menceritakan puisi tentang alam yang indah dan puisi keadaan alam sekitarNah bagaimana cerita alam dalam bait bait puisi alam yang dipublikasikan puisi dan kata bijak, untuk lebih jelasnya silahkan disimak saja contoh puisi pemandangan alam dalam deretan bait bait kumpulan puisi tentang keindahan alam berikut Keindahan Dan PenyesalanOleh أنصار الإمام اريماKu pandangi keindahan alam iniSaat embun menapakkan kakiSaat rembulan memalingkan mukanyaKeindahan ini sangatlah suciPanorama alam dipagi hariTeringat pada sang IlahiMentari kian merekahTerbangun dari tidur yang indahPanasmu kian menyengatTerasa hingga kesudut jiwaTapi,apa yang kuperbuat?Hanya merusak,tanpa merawatHanya bertindak tak bertanggung jawabAwan hitam kian memekatMenutup jiwa,hingga tak sehatDirimu tlah murkaKepada kami semuaRasa memelas telah binasaHilang dari dalam jiwa....KEINDAHAN ALAM PAGIKarya taty desiyantiSaat kuterbangun dari tidurkuKetika kumembuka mataCahaya pagi menembus kaca jendelaAku terus berfikir apakah ini nyataLalu aku sadarInilah nyata keindahan alamKuberanikan diri menatap keluarTerlihat kabut tebal menutup di pagi hariTetes-tetes embun membasahi dedaunanPohon-pohon tampak indahKicauan burung terdengar merduDingin pagi menembus kulitPerlahan-lahan kuhirupLalu kupejamkan mata sejenakSejuk nyaman tenang kurasakanKini kusadari hari baru bersambutBersama keindahan alam pagiBack to list puisi tentang keindahan alam ↑KEINDAHAN ALAMOleh NNalam berikan berjuta keindahansuara debur ombak ditepi lautangemercik air yang mengalir dari celah bebatuansejuk hembusan angin dialam pegununganalampun berikan bermacam kenikmatanpadi yang tumbuh subur dipersawahanlaut yang menjadi sumber penghidupan nelayanmerasakan lembut belaian angin yang berhmbur dari sela dedaunanmendengan alunan melodi syahdu dari burung yang hinggap didedahananitu semua sungguh menemangkan pikirankeindahan alam membentang dari gunung sampai lautanalam sungguh indah tiada tandinganTuhan telah melukiskan alam yang sangat menawandan alam berikan kenikmatan yang tak tergantikaPESONA ALAMOleh IstianaBulan bersinar terangNampaklah keindahan alamPemandangan alam berjalan bersama bayang bayangUdara malam angin sepoi sepoi menyapa ranting dan dedaunanTimbulkan irama musik alamGunung yang tinggi menjulang menghiasi malamNyala lampu dikejahuan menambah pesona alamWaktu terus berjalanBulanpun tenggelam hilang dari pandangnALAM SEMESTAOleh IstianaPagi yang cerahUdara dingin menyapu hangatnya sang suryaBurung-burung berkicau berloncatn didahanHamparan sawah menghijau bersama embun bercahayaLangit biru terbentang luas diangkasa rayaSebagian orang bisa menikmati keindahan alamMensyukuri dan mentafakurifirman-firman Allah yang berdasar qouniyahBerupa alam semestaSegala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alamSungguh indah untuk dikenangALAM YANG INDAHKarya Kasman prabowo/Ardan wibowoDi hutan yang alamPohon pohon tumbuh suburBurung burung berkicau menghibur alam yang indahGurauan harimau begitu riaBagai istana alam yang begitu damaiWarna warni seisi hutan begitu indah penuh pesonaLembut suara angin menyapa ranting ranting dan daun yang layuAlam ku alam kitaAlam ciptaan Tuhan seisinyaBegitu megah Tuhan menciptakan alam semestaNamun kini gersang tergusur bisingnya kotaPolusi asap merajai alam nyataGersang penuh kebisinganPanas penuh keangkuhanDimana keindahan alam iniKini punah seisi hutanDulu kicau burung burung begitu merduKini hanya kicau kicau manusia para pengacauHutan hutan gersang terbakar oleh ketamakan nafsuTiada lagi indah kini alam nyata kuBinatang binatang penghuni hutan alam nyata kini punah di buru oleh kebuasan manusiaBurung burung yang dulu berkicau di pagi hari kini tiada lagi bersuaraPagi sunyi senyap bagai dunia yang telah to list puisi tentang keindahan alam ↑BIAS SENYUM MENTARIOleh Maida RosydaDi balik gigil pagiEmbun perlahan pergiNampak semburat bias mentariMelalui celah dedaunan pohon jatiSenyum terindah pembuka hari iniCericit burung emprit bersahutanSemakin mewarnai,alam penuh keindahanDesau lembut anginpun tak ketinggalanMenemani kesejukan di pagi nan menawanSawah luas membentangPohon padi menghijau di tiap batangMendamaikan hati saat memandangBetapa indah alam negeri luas terbentangNampak gemulai langkah puan desaMenjejaki jalan menikmati panoramaKeindahan alam ciptaan Tuhan sang KuasaDalam bias senyum mentari di sungging bibirnyaPUISI SYUKUROleh Riris LadafiLihatlah langit yang mempesonabiru muda nun jauh di sanaKeindahan alam membentang di sisi duniaRiuh piku kehidupan manusia mengambarkan keberagaman warnanya duniaEmbun dikala pagi menambah kesejukanTerik mentari menyinari hari-hari tuk mencari sesuap nasiSenjapun menghampiri dengan kilauan yang menawanMalam hadir bersama bintang dan sinar rembulan tuk memberi rasa nyaman agar lelah terbayarkanOh hambanya tidakkah kau bahagia atas semua nikmat-NyaKeindahan AlamOleh Chairul itu luruh, gemuruhmenimpa bebatuan tegar,Menerpa angin, diantara rerimbunan pohon hutan,seperti geloranya hati lagi jatuh cinta,yang mengalir tanpa dipandu seperti derasnya air sungai disekitaran itu . . .terjun tanpa irama di antara bebatuan tegar menerpa , menyatu dalam asa, mengukir suasana,Memutih, indah seperti lukisan semesta,dalam rerimbunan riuh nyanyian burung burung liar menghiyasi alamMenjelma ,dipadu adanya flora dan fauna tumbuh liar menambah keindahan dalam pandangan damai tercipta tanpa ditata,Karena terbawa oleh suasana,Aku termangu dalam diam ,Mengagumi keindahan terjun itu masih gumuruh,Ketika aku tinggalkan karena menjelang senja telah to list puisi tentang keindahan alam ↑TELAGA BENINGKarya Badai Laut SelatanDalam kejernihan kedalaman muka air telaga terlihat dekat, kala pikiran selalu bertanya tentang dasar terlihat jelas sedangkan hati ihklas menerima keindahanApa yang di lihat jelas belum tentu menyentuh sampai ke dasar seperti meraba bayanganSedangkan ketenangan dan kedamaian temukan jalannya sendiri membuka tabir keindahan hanya sesaat menyentuh pesona ketakjubpan alamDan aku hanya mampu melihat dengan mata fana mengagumi bening dalam hening, di awal pagi berbaur harum sejuk butiran embun saat dedaunan melepasnya jutuh membentur muka air telagaDemikianlah kumpulan puisi tentang keindahan alam yang paling indah, baca juga puisi alam yang lain di blog puisi dan kata bijak, semoga puisi tentang alam yang diterbitkan di kesempatan ini dapat menghibur dan bermanfaat bagi pembaca yang sedang mencari contoh puisi pemandangan alam, terima kasih sudah berkunjung. tentangsiapa pula yang akan mau makan tentu bagi siapa saja yang berselera atau nafsu semangat makannya ada (ketahui siapa yang makan, 2022) Puisi kedua dari enam rincian judul puisi tentang Rencana Merinci Makanan, khususnya tentang Ketahui Siapa yang Makan. Semoga bermanfaat.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pada cekungan karang, Kerapu sedang menanti, persis di batas tampak dan tidak tampakarus tubir, melompatlah ikan, yang dikirim arus utara dalam pusaran semalamSepagi ini telah masuk ke dalam bubuKau mungkin tidak percaya kakekku adalah karang yang menghimpun bayi KerapuPuisi tersebut bagian dari buku puisi berjudul "Karang Menghimpun Bayi Kerapu" yang berisi 100 puisi karya Ibrahim Gibra - nama pena dari Prof Gufran Ali Ibrahim. Puisi itu sejatinya, cara memahami pengarang tentang keindahan alam Maluku Utara di masa lalu, saat ini dan apa yang diimajinasikan nanti. Imajinasi itu bisa juga tentang kota yang punya tol, resto, kereta Argo Parahiyangan, tiang tiang atau tentang cinta yang memeluk rindu. Gaya menulis puisi tersebut menurut pandangan Sutarjo Adisusilo, disebut sebagai filsafat sejarah spekulatif yang menuliskan semua tentang masa lalu, sejarah, yang pernah terjadi, direkam dalam memori lalu dihubungkan dengan hidup saat ini. Ujungnya adalah tentang kemungkinan yang akan terjadi nanti. Masa lalu diwujudkan lewat magori. Ini sumber hidup yang berasal dari Ibu dan keluarga bahkan tentang laut, karang, ikan dan pasir. Inilah magori kita anak-anak di Maluku Utara yang lahir dan besar bersama laut atau juga bersama hutan yang isinya pohon sagu, kenari, kelapa, cengkih dan serba pertama. Ada realisme bertutur di situ. Ibrahim Gibra menulis romantisme yang kini mulai hilang tergusur modernitas dalam bait-bait puisi yang tajam. Sebuah historical responsibility yang lepas. Di mana kita hari ini? Di kota yang bising penuh tipu muslihat. Kita jadi lupa dengan magori. Lupa bagaimana caranya membuat bubu, lalu merayu ikan dengan daun Tagalolo Landmark Ternate merupakan daya tarik tersendiri dari Kota Ternate memiliki kesan bahari yang sangat kental dan menjadi ciri khas Pulau Ternate Wikimedia Commons Buku berjudul "Karang Menghimpun Bayi Kerapu" ini dibedah langsung Hasan Aspahani, pemenang Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016. Menurutnya, Imaji laut yang ada dalam karya ini berbeda dengan imaji laut yang ada pada karya-karya lain. Laut dalam karya Ibrahim Gibra ini sangat personal, kesannnya, dan bedah buku ini sendiri dibuat oleh Kantor Bahasa Maluku Utara bersama Fakultas Ilmu Budaya FIB Universitas Khairun Unkhair Ternate. Hasan, yang juga penerima Anugerah Sastra Badan Bahasa 2018 itu mengatakan puisi-puisi yang berada di dalam buku sebagian besar bertema laut dan masa lalu seorang Ibrahim Gibra, bahkan disebut Hasan sebagai penyair yang menyamar menjadi profesor. Ia sangat metaforis menulis masa kecilnya. "Puisi-puisi ini membuat saya berhak menikmatinya dengan sepersonal mungkin. Dan setiap orang saat menemukan puisi-puisi ini mereka juga berhak menikmatinya," ucap Bang Acang, sapaan akrab yang disematkan Ibrahim kepadanya. Sebagai seorang penulis puisi beliau juga mempersembahkan puisi nya untuk Ibrahim Manusia dan Air Gurakauntuk Ibrahim Gibra 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya

.
  • gvuk62hbb7.pages.dev/273
  • gvuk62hbb7.pages.dev/276
  • gvuk62hbb7.pages.dev/165
  • gvuk62hbb7.pages.dev/413
  • gvuk62hbb7.pages.dev/133
  • gvuk62hbb7.pages.dev/390
  • gvuk62hbb7.pages.dev/83
  • gvuk62hbb7.pages.dev/232
  • puisi makassar tentang keindahan